Senin, 20 Maret 2017

TEORI FUNGSIONALISME STRUKTURAL ROBERT MERTON



Robert Merton merupakan salah satu mahasiswanya Talcoot Persons. Merton menulis sejumlah pernyataan terpenting dari teoritisi fungsionalisme struktural Parson. Maka dari itu merton mengkritik beberapa aspek ekstrem dan kukuh dari fungsionalisme struktural. Ada beberapa perbedaan pemikiran antara Marton dan Parson dalam mengkaji teori Fungsionalisme Struktural ini. Perbedaaan penting antara keduanya yaitu, Persons mendukung terciptanya teori besar dan mencakup seluruhnya, sedangkan Merton lebih memilih teori-teori yang lebih terbatas, dan pada tingkat menengah. Dalam hal ini Merton lebih dekat pada teori Marxian ketimbang Parsons dan lebih dipandang sebagai teori pendorong Fungsionalisme Struktural berhaluan kiri secara politis.
Model struktural fungsional  Merton mengkritik apa yang dilihatnya sebagai tiga postulat dasar analisis fungsional sebagaimana dikembangkan oleh antropolog seperti Malinowski dan Radcliffe Brown. Yang pertama adalah postulat kesatuan fungsional masyarakat. Postulat merupakan kepercayaan dan praktik sosial budaya bersifat fungsional bagi masyarakat umum. Sedangkan Merton berpandangan bahwa meskipun hal ini berlaku bagi masyarakat kecil dan primitif, generalisasi ini dapat diperluas pada masyarakat yang lebih besar dan kompleks.
Fungsionalisme universal adalah postulat kedua. Jadi, dinyatakan bahwa semua bentuk dan struktur sosial kultural memiliki fungsi positif. Merton berpendapat bahwa ini bertentangan dengan apa yang kita temukan didunia nyata. Jelas tidak semua struktur , adat istiadat, gagasan, keyakinan, dan lainnya memiliki fungsi positif. Contohnya kasus perilaku mahasiswa UII yang menewaskan 3 mahasiswanya dalam sebuah kegiatan kampus, UII yang kental dengan keagamaan ternyata juga masih kecolongan dengan perilaku yang menyimpang.
Yang ketiga adalah Postulat indispensabilitas, postulat ini merupakan seluruh aspek standar masyarakat tidak hanya memiliki fungsi positif namun juga merepresentasikan bagian-bagian  tak terpisahkan dari keseluruhan, artinya postulat ini diperlukan oleh semua masyarakat. Pendapat Merton adalah bahwa postulat fungsional tersebut bersandar pada pernyataan nonempiris yang didasarkan pada sistem teoretis abstrak. Minimal menjadi tanggung jawab sosiolog untuk menelah setiap postulat tersebut secara empiris. Keyakinan Merton adalah bahwa uji empiris, bukan pernyataan teoretis, adalah sesuatu yang krusial bagi analisis fungsional. Inilah yang mendorongnya untuk mengembangkan paradigma analisis fungsional sebagai panduan mengarah pengintegrasian teori dengan riset. Dari sudut pandang tersebut Merton menjelaskan bahwa analisis struktural fungsional memusatkan perhatian pada kelompok, organisasi , masyarakat dan struktur fungsional harus “mempresentasikan unsur-unsur standar ( yaitu yang terpola dan berulang) (Merton, 1949/1968: 104).
Manfaat konsep Merton terletak pada cara dia mengarahkan sosiolog untuk bertanya tentang signifikansi relatif. Ambil contoh tidak keadilan dalam seleksi kedinasan pasti orang kalangan petinggi memilih jalur pintas agar keterima dalam kedinasan tersebut, sedangkan orang kurang mampu harus berusaha keras untuk keterima kedinasan, ini mengartikan bahwa kedinasan dikuasai mayoritas orang-orang elit. Untuk menjawab hal seperti ini Merton menambahkan gagasan bahwa pasti ada level analisis fungsional. Pada umumnya, para fungsionalis membatasi dirinya pada analisis masyarakat secara keseluruhan, namun Merton menjelaskan bahwa analisis dapat juga dilakukan terhadap organisasi, institusi atau kelompok.
Merton juga memperkenalkan konsep fungsi manifes  dan fungsi laten. Kedua istilah tersebut mrupakan tambahan penting bagian analisis fungsional secara sederhana. Fungsi manifes adalah yang dikehendaki, sementara fungs laten adalah yang tidak dikehendaki. Fungsi manifes perbudakan misalnya adalah meningkatkan prokduktivitas ekonomi kawasan selatan, namun dia memiliki fungsi laten yaitu menghasilkan begitu banyak kelas budak yang berfungsi meningkatkan status sosial warga kulit putih diselatan. Hal ini sama saja seperti era sekarang pasar ekonomi diIndonesia dikuasai ras china. Sedangkan pribumi hanya diperbudak untuk mensejahterakan dirinya pribadi. Gagasan ini terkait dengan konsep merton yang lain konsekuensi yang tidak terantisipasi, Merton menjelaskan Bahwa konsekuensi-konsekuensi yang tidak diantisipasi dan fungsi laten tidaklah sama. Fungsi laten adalah suatu tipe konsekuensi yang tidak terantisipasi, sesuatu yang fungsional sebagai sistem yang dirancang, namun ada dua jenis konsekuensi tak terantisipasi lain: “hal-hal disfungsional bagi sistem yang telah ada, dan itu semua mencakup disfungsi laten , dan hal-hal  yang tidak relevan dengan sistem yang mereka pengaruhi secara fungsional atau disfungsional konsekuensi-konsekuensi nonfungsional (Merton, 1949/1968: 105)


Referensi :


·         George Ritzer & Douglas J.Goodman.2011.Teori Sosiologi, Edisi terbaru. Bantul:Kreasi Wacana
·         Anthony  Giddens.2009.Problematika Utama dalam Teori Sosial.Yogyakarta:Pustaka Pelajar
·         Margaret, M. Poloma. 2010. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
 


TEORI FUNGSIONALISME STRUKTURAL ROBERT MERTON

Robert Merton merupakan salah satu mahasiswanya Talcoot Persons. Merton menulis sejumlah pernyataan terpenting dari teoritisi fungsiona...