Robert
Merton merupakan salah satu mahasiswanya Talcoot Persons. Merton menulis
sejumlah pernyataan terpenting dari teoritisi fungsionalisme struktural Parson.
Maka dari itu merton mengkritik beberapa aspek ekstrem dan kukuh dari
fungsionalisme struktural. Ada beberapa perbedaan pemikiran antara Marton dan
Parson dalam mengkaji teori Fungsionalisme Struktural ini. Perbedaaan penting
antara keduanya yaitu, Persons mendukung terciptanya teori besar dan mencakup
seluruhnya, sedangkan Merton lebih memilih teori-teori yang lebih terbatas, dan
pada tingkat menengah. Dalam hal ini Merton lebih dekat pada teori Marxian
ketimbang Parsons dan lebih dipandang sebagai teori pendorong Fungsionalisme
Struktural berhaluan kiri secara politis.
Model
struktural fungsional Merton mengkritik
apa yang dilihatnya sebagai tiga postulat dasar analisis fungsional sebagaimana
dikembangkan oleh antropolog seperti Malinowski dan Radcliffe Brown. Yang
pertama adalah postulat kesatuan fungsional masyarakat. Postulat merupakan
kepercayaan dan praktik sosial budaya bersifat fungsional bagi masyarakat umum.
Sedangkan Merton berpandangan bahwa meskipun hal ini berlaku bagi masyarakat
kecil dan primitif, generalisasi ini dapat diperluas pada masyarakat yang lebih
besar dan kompleks.
Fungsionalisme
universal adalah postulat kedua. Jadi, dinyatakan bahwa semua bentuk dan
struktur sosial kultural memiliki fungsi positif. Merton berpendapat bahwa ini
bertentangan dengan apa yang kita temukan didunia nyata. Jelas tidak semua
struktur , adat istiadat, gagasan, keyakinan, dan lainnya memiliki fungsi
positif. Contohnya kasus perilaku mahasiswa UII yang menewaskan 3 mahasiswanya
dalam sebuah kegiatan kampus, UII yang kental dengan keagamaan ternyata juga
masih kecolongan dengan perilaku yang menyimpang.
Yang
ketiga adalah Postulat indispensabilitas, postulat ini merupakan seluruh aspek
standar masyarakat tidak hanya memiliki fungsi positif namun juga
merepresentasikan bagian-bagian tak
terpisahkan dari keseluruhan, artinya postulat ini diperlukan oleh semua
masyarakat. Pendapat Merton adalah bahwa postulat fungsional tersebut bersandar
pada pernyataan nonempiris yang didasarkan pada sistem teoretis abstrak.
Minimal menjadi tanggung jawab sosiolog untuk menelah setiap postulat tersebut
secara empiris. Keyakinan Merton adalah bahwa uji empiris, bukan pernyataan
teoretis, adalah sesuatu yang krusial bagi analisis fungsional. Inilah yang
mendorongnya untuk mengembangkan paradigma analisis fungsional sebagai panduan
mengarah pengintegrasian teori dengan riset. Dari sudut pandang tersebut Merton
menjelaskan bahwa analisis struktural fungsional memusatkan perhatian pada
kelompok, organisasi , masyarakat dan struktur fungsional harus
“mempresentasikan unsur-unsur standar ( yaitu yang terpola dan berulang)
(Merton, 1949/1968: 104).
Manfaat
konsep Merton terletak pada cara dia mengarahkan sosiolog untuk bertanya
tentang signifikansi relatif. Ambil contoh tidak keadilan dalam seleksi
kedinasan pasti orang kalangan petinggi memilih jalur pintas agar keterima
dalam kedinasan tersebut, sedangkan orang kurang mampu harus berusaha keras
untuk keterima kedinasan, ini mengartikan bahwa kedinasan dikuasai mayoritas
orang-orang elit. Untuk menjawab hal seperti ini Merton menambahkan gagasan
bahwa pasti ada level analisis fungsional. Pada umumnya, para fungsionalis
membatasi dirinya pada analisis masyarakat secara keseluruhan, namun Merton
menjelaskan bahwa analisis dapat juga dilakukan terhadap organisasi, institusi
atau kelompok.
Merton
juga memperkenalkan konsep fungsi manifes dan fungsi laten. Kedua istilah tersebut
mrupakan tambahan penting bagian analisis fungsional secara sederhana. Fungsi
manifes adalah yang dikehendaki, sementara fungs laten adalah yang tidak
dikehendaki. Fungsi manifes perbudakan misalnya adalah meningkatkan
prokduktivitas ekonomi kawasan selatan, namun dia memiliki fungsi laten yaitu
menghasilkan begitu banyak kelas budak yang berfungsi meningkatkan status
sosial warga kulit putih diselatan. Hal ini sama saja seperti era sekarang
pasar ekonomi diIndonesia dikuasai ras china. Sedangkan pribumi hanya
diperbudak untuk mensejahterakan dirinya pribadi. Gagasan ini terkait dengan
konsep merton yang lain konsekuensi yang
tidak terantisipasi, Merton menjelaskan Bahwa konsekuensi-konsekuensi yang
tidak diantisipasi dan fungsi laten tidaklah sama. Fungsi laten adalah suatu
tipe konsekuensi yang tidak terantisipasi, sesuatu yang fungsional sebagai sistem
yang dirancang, namun ada dua jenis konsekuensi tak terantisipasi lain:
“hal-hal disfungsional bagi sistem yang telah ada, dan itu semua mencakup
disfungsi laten , dan hal-hal yang tidak
relevan dengan sistem yang mereka pengaruhi secara fungsional atau
disfungsional konsekuensi-konsekuensi nonfungsional (Merton, 1949/1968: 105)
Referensi :
·
George Ritzer & Douglas J.Goodman.2011.Teori
Sosiologi, Edisi terbaru. Bantul:Kreasi Wacana
·
Anthony
Giddens.2009.Problematika
Utama dalam Teori Sosial.Yogyakarta:Pustaka Pelajar
·
Margaret, M.
Poloma. 2010. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar